Pernahkah kau berpikir untuk menjadi atau seperti bintang, bulan, dan matahari?
Ketiga hiasan langit itu pasti pernah terbersit dalam keinginanmu. Tentu karena ketiganya terkandung keindahan ataupun keperkasaan. Bintang-bintang dengan kerlap kerlip indahnya. Bulan dengan cahaya lembutnya. Kilau dan panas matahari sebagai penguasa hari.
Pernahkah kau lihat sisi lain dari bintang, bulan, dan matahari?
Ketiganya memang ditakdirkan sebagai pembuai hasrat manusia terhadap penghias hari. Hal itu yang menutup sisi lemah ketiga sosok penghias antariksa tersebut.
Bintang-bintang memang tampak begitu memesona timbulkan sensitifitas hati akan romantisme dan terbangnya angan. Tapi apakah bintang sanggup bertahan melawan hadirnya terang di pagi hari? Apakah bintang sanggup sampaikan kerlip indahnya melalui awan tebal yang menutup malam? Tidak ! Bintang takkan sanggup melakukannya.
Inilah bulan yang selalu jadi buah rayuan dalam percintaan. Cahaya lembutnya memang sangat memesona. Iya memang ! Tapi apakah bulan selalu muncul dengan sosok konsistenya? Hari ini bundar tapi lain hari hanya sebentuk sabit kecil yang redup. Bulan juga tak sanggup melawan terangnya hari dan awan mendung.
Ini dia matahari yang perkasa. Penguasa hari yang mampu mengalirkan angin-angin di setiap bagian bumi hingga terbentuk musim-musim bahkan badai. Pelontar panas yang dapat meluluhlantakkan bumi. Namun matahari lelah oleh putaran senja dan saput awan di langit.
Maka sekarang apakah kau masih berpikir untuk menjadi bintang, bulan, atau matahari?
Jangan ! Jangan pernah ingin menjadi bintang, bulan, dan matahari! Karena sebenarnya ketiganya hanyalah semu. Kalau kau ingin, maka pilihlah cahaya sebagai keinginanmu.
Cahaya bersatu pada benda-benda langit akan menjadi bintang, bulan, dan matahari.
Cahaya merasuk dalam sebulir intan maka akan menjadi pembuai mata.
Cahaya bertahta dalam hati, maka akan mengalirkan terang pada setiap laku bagian tubuh.
Mengalir ke tangan maka akan tercipta belaian-belaian penuh kasih. Menjadi pemegang terhadap kebaikan-kebaikan. Menjadi penolong para mahluk bumi yang membutuhkan.
Meluruh ke kaki maka akan menuntun setiap langkah pada jalan ilahi. Menunjukkan hal-hal baik yang mesti dipijak. Melindungi telapak dari onak dan duri dunia.
Menyatu ke mata, maka akan menjadi penerang dalam melihat dan membaca berbagai suasana dunia hingga tergerak diri untuk peduli pada sesama. Menjadi pelembut tatap mata sehingga tercipta tatapan penuh kasih dan sayang. Menjadi pengarah untuk melihat jalan kehidupan.
Naik ke telinga, maka akan menjadikan diri mendengar lebih jelas aneka suara manusia sehingga hati lebih peka. Mendengar lebih jelas keindahan harmoni dan romansa dunia.
Saat bergerak ke lidah, maka akan terlantun bait-bait penuh makna akan kebijakan-kebijakan diri yang bertumpu pada nurani.
Dan ketika mengalir ke dalam setiap sel otak, cahaya itu akan menjadi energi untuk berpikir tentang apa yang bisa kau berikan untuk dunia. Pada akhirnya akan menggerakkan setiap tali syaraf motorik untuk berbuat dan bertindak memberikan kemanfaatan bagi umat manusia dan bumi tempat tinggalnya.
Maka sekarang mana yang kau pilih?
(tulisan ini aslinya email yg dikirim sama mas amin ke anak2 Tim II 2008 KKN Desa Sendang-Bringin... mudah2an tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua...=))
Surat Suara Tanpa Angka
11 years ago
